This is Gudangku, my Blog. You read what I write, you understand what I say, you see how I look. But you’ll never really know who I’m. So, Don't judge a person from their blog. :")

GUDANGKU....

Di sini gudangku curhat, gudangku meluapkan emosi, gudangku menarikan jemari lentikku di atas keybord.

Ketika rasa sudah meraja. Segala cela hilang tiada.
Padamu yang kusuka. Semoga bukan hayalan saja.
- _ketika seseorang dilanda cinta_

"Kemarin kamu ga lembur, lil?" Jo, menghampiri meja kerjaku selepas doa pagi usai.

"Ngga, kesiangan..jadi males berangkat" jawabku singkat.

"Aku bbm juga silang. Bb mu rusak atau ga aktif?"
“Ga aktif, belum beli paket.”
“Beli donk, biar gampang bisa bbm-an”
“Males, kan udah ditulis, urgent calls or text only”
“Tapi kan aku ga punya no.kamu”
“Siapa suruh ga minta”
Aku bangun dari tempat dudukku dan meninggalkan Jo begitu saja.

"Mau kemana, Lil?" Tanyanya kepo.
“Boker, mau ikut??” Jawabku asal jeplak.

Di dalam kamar mandi lantai dua, aku mematut diri di depan cermin. Sambil merapikan jilbab orange ku yg senada dengan warna seragam kantor ku tiap senin. Aku tersenyum simpul dalam refleksiku sendiri.
Cinta monyet.
Ya, hanya cinta monyet…

**

Seperti sebelumnya, aku dan Jo menghabiskan waktu dengan melembur. Ralat, kerja berlebih maksudku. Jo yang duduk sebelah kanan, 3kursi ke depan dari posisiku, membuat aku dengan mudah memperhatikannya.

Aku kembali bergerumul dengar data report-report dari cabang, sesekali aku mencuri pandang ke arahnya. Jemari lentiknya menari-nari menjamah keyboard, matanya lekat pada layar laptop. Entah apa yang dikerjakannya, dia tengah hanyut dalam dunianya.

Sesekali dia pun menoleh ke belakang, nampak ingin memastikan bahwa aku masih ada, menemaninya.

Ah Jo, pandai betul kau mempermainkan rasa. Tidakkah kau sadar segala perlakuanmu membuat ku serasa putri tanpa mahkota. Atau aku hanya budak sahaya yg bermimpi mendapatkan raja..?? Ah sudahlah. Tolong hentikan tatapanmu itu, Jo. Aku tak mampu menatapnya…


@anaknya_abeh

Tak ada rindu yang tak mengenal waktu. Tak ada waktu yang mampu menanti rindu. - (via egopena)

Pada rindu kumengadu, waktu telah lama memisahkan aku denganmu :’(

Hampir setahun aku dekat dengan Jo, pria Jawa yg secara sengaja menjadi partner kerja aku di kantor. Perawakannya yg peluk-able dan kondangan-able membuat aku kadang suka berimajinasi liar. Dasar wanita.

Ini sangat lucu, awal pertemuan dan pertemanan kami di mulai dengan saling caci, menggerutu, dan tak pernah akur. Akupun bingung. Pria macam dia kenapa bisa dipilih jadi leader sementara gaya bahasanya sungguh menjengkelkan. Tapi apa boleh buat, aku tak bisa memilih, setidaknya menerima adalah salah satu pilihannya.

Fyi, aku lebih dulu pegang project ini, 4 bulan kemudian dia baru bergabung denganku. Jadi mau ga mau, aku harus menceritakan all about this project ke Jo.

"Aku minta data 6 bulan terakhir ya, Li. Kalo bisa besok pagi sudah dikirim ke saya." Hish, baru seminggu kenal dia sudah lansung meminta ini itu kepadaku. Bete. Tapi tetap aku ikutin cara mainnya. We’ll see, sejauh mana dia akan tahan dengan "kerjaan" ini.

Lambat laun, dia makin menjengkelkan. Membuat emosiku mencuat. Tapi kadang wajah lugunya mampu meredamnya. Hallahh, dasar wanita.

Hingga suatu saat, kami pergi ke luar kota bareng, SPD, perjalanan dinas. Iya, hanya kami berdua, aku dan dia.
Banyak episode yang kami lalui bersama dalam waktu 5hari saja. Dia menceritakan semua tentangnya yang sungguh aku tak sedikitpun ingin mengetahuinya. Dan dia, dengan gaya tengilnya selalu saja mengorek tentangku, yang lugu.

Entah mulai dari mana akupun meragu, hubungan kami makin kemari makin ambigu. Dia mulai menyapaku lewat dari jam kerja. Bahkan tak jarang pillow talk kami lakukan. Membicarakan hal yg berbau kerjaan sampai film baru apa yang akan tayang.

Bahkan sabtu pun dia sudah mulai menemaniku lembur. “Biar kerjaan kita cepet selasai, Lil.” Begitu jawabnya, ketika ku tanya kenapa dia lembur.

Hari berganti minggu berlalu bulan. Hubungan ini sudah semakin tak karuan. Bahkan kami sering melewatkan bersama tuk sekedar menghabiskan malam mingguan. Sungguh di luar dari batas pertemanan.

"Malam minggu bukannya jalan malah lemburan, gimana bisa dapet pacar kamu, Lil..!!" Candanya yg sama sekali tak lucu buat aku. Dan hanya lirikan sinis yang dia dapatkan dariku, tanpa kata sepatahpun.

"Besok temenin aku nonton yuks, Lil.."

Ajakannya yang tiba-tiba membuat aku seperti Syahrini-yang-tertidur-direrumputan-i’m freeeee…oh Tuhan, kenapa tiba-tiba jantungku seperti habis menenggak segentong kopi, degdegan begini…

"Mau ga, bontot..??!!" Dia menghampiri mejaku dan memanggilku dengan sebutan yang sungguh membuatku menggelinjang, bontot.

"Hah, besok..?? Jam berapa??", aku memastikannya kembali.

"Ya siang lah, emang pagi bioskop udah buka?? Gimana sih??"

Dan kali ini aku dibuat skak matt olehnya.

"Maksudnya mau nonton yang jam berapa? Soalnya saya mau ke Istiqlal dulu ada acara pengajian Yusuf Mansyur"

"Nonton yang sore aja, karena siangnya aku ada misa di Katedral."


**


Ketika aku ke Istiqlal, dan kamu ke Katedral. Lalu bagaimana bisa rasa ini akan halal…??

@anaknya_abeh

Hay G..
Setelah meracau tak karuan, aku mau mulai mencorat coret dindingmu nih, G…

Malam ini, aku nginep di salah satu hotel di Banjarnasin. You know G, aku tidur sendiri loh. Hebat. Setelah 2malam tidur sekamar dg salah satu manager, tp malam ini dia balik duluan, jd aku tidur sendiri deh..

Kamu tau, kenapa tiba2 aku mencorat-coret dindingm, G..?? Pasti ga tau kan..makanya aku ksh tau..

Sore tadi, hp ku ilang, G..iphone..T_T
Dan entah mengapa org yg pertama kali aku hubungi adalah si dia. Iya G, pria itu. Jelas2 dia ga punya iphone. Lucu. Kenapa juga mesti dia yg aku ingat dan dengan-tidak-sadarnya aku hubungi? Ah semoga hanya kebetulan saja. Dia menenangkanku, mencoba mencari alternatif untuk membantuku. Dan dia menyarankan coba hubungi temanku yg punya iphone juga. Ya akhirnya aku ingat si pria-cina-tapi-bukan-cina-juga-sih (ga usah di mention, palingan juga baca orangnya). Akhirnya aku telp dia dan malah kena ceramahannya. Hufftt, dasar cina gadungan. Ya, gitu deh bedanya temen sama demen. Yg atu nyeramahin, yg atu mah lemah lembut…*piss beb…

Trus, dpt wa juga dr si abang keceh, ini juga ga perlu di mention, sumpah ya G, isi chatnya bener2 ngenampar bgt. Ya, nampar bolak balik lbh tepatnya. Udah tau adenya keilangan hp, malah di ceramain..huhuhu, tp thx ya bang, bener bgt, kurang sedekah nih…

Bayangin G, di kampung org, sendiri, hp ilang…oh Tuhan, tegurannya sangat pas. Iya pas.

Udah dulu ya, G..
Mau lanjutin nangisnya… T_T


_banjarmasin_

Malam ini aku sangat kacau. Meracau kacau balau tak karuan.
Meraung tiada berujung.

Aku sangat kacau.

Otakku penat.
Emosiku mencuat.
Aaarrgg..

Aku sangat kacau.


_banjarmasin_

Minggu terakhir di bulan Juli

Tak terasa Juli sebentar lagi akan beranjak, pergi meninggalkanku… Setengah tahun berlalu dari tahun kuda, dan aku masih saja terlena dengan kondisi yang ada.

Tahun ini tak ada kejutan, pun tak ada perayaan.
Tak ada kado yg kukirimkan, tak ada kue yg kuberikan.

Hanya doa yg tetap kupanjatkan, dimanapun kau berada, bagaimanapun keadaannya, smoga bahagia dan barokah selalu menyertaimu..

Ini tahun pertama kita tak merayakan bersama, smoga bukan alasan tuk tak saling berkirim ucapan..

Selamat ulang tahun, hey cancer..
Selamat ulang tahun, tuan berkacamata..

_dariku yg dulu pernah bersama_

Miss you, Mr. Glasses…….

Aku terdiam dalam bungkam.
Menunggu dalam gerimis,
menangis.

Diammu mencekam.
Melumatkan rindu yang tak
berujung, pilu.

Merindu lesung pipi di bawah bingkai
yang menyembunyikan sepasang bola mata.

Berhentilah marah.
Karena aku sudah lelah.
Dirundung resah. Gelisah.

Kamu masih percaya ke-tabu-an bahwa perempuan tak pantas mengungkapkan perasaan?

Aku masih. Setidaknya sampai detik ini.

Sampai sebuah perdebatan hebat terjadi antara aku dan dia. Pagi tadi.

Ya, dia.
Seseorang yg mungkin aku memiliki rasa. Entah rasa sungguhan atau hanya sebuah rasa penasaran. Pertemanan.

Dia, seseorang yg mengajariku tuk berani ungkapkan rasa, jika benar aku cinta.

Sementara aku, seorang gadis lugu yg masih terbelenggu tabu, bahwa wanita hanya perlu menunggu. Tanpa perlu mengungkapkan rasa terlebih dahulu.

Hey, kamu…pria berkacamata.
Tidakkah kau termakan ucapanmu?

Kau marah.
Seolah aku yang bersalah.
Memiliki rasa yang tak berbalas. Karena
memang tak ku lepas.
Kusimpan erat keberadaannya. Hingga
akhirnya kau menemukannya.

Kini, diakhir perdebatan kita. Kembali ku dipersalahkan rasa.
Rasa yang mungkin kini sudah berbeda.
Maka maafkanlah.


_minggu pagi selepas hujan_