This is Gudangku, my Blog. You read what I write, you understand what I say, you see how I look. But you’ll never really know who I’m. So, Don't judge a person from their blog. :")

GUDANGKU....

Di sini gudangku curhat, gudangku meluapkan emosi, gudangku menarikan jemari lentikku di atas keybord.

Miss you, Mr. Glasses…….

Aku terdiam dalam bungkam.
Menunggu dalam gerimis,
menangis.

Diammu mencekam.
Melumatkan rindu yang tak
berujung, pilu.

Merindu lesung pipi di bawah bingkai
yang menyembunyikan sepasang bola mata.

Berhentilah marah.
Karena aku sudah lelah.
Dirundung resah. Gelisah.

Kamu masih percaya ke-tabu-an bahwa perempuan tak pantas mengungkapkan perasaan?

Aku masih. Setidaknya sampai detik ini.

Sampai sebuah perdebatan hebat terjadi antara aku dan dia. Pagi tadi.

Ya, dia.
Seseorang yg mungkin aku memiliki rasa. Entah rasa sungguhan atau hanya sebuah rasa penasaran. Pertemanan.

Dia, seseorang yg mengajariku tuk berani ungkapkan rasa, jika benar aku cinta.

Sementara aku, seorang gadis lugu yg masih terbelenggu tabu, bahwa wanita hanya perlu menunggu. Tanpa perlu mengungkapkan rasa terlebih dahulu.

Hey, kamu…pria berkacamata.
Tidakkah kau termakan ucapanmu?

Kau marah.
Seolah aku yang bersalah.
Memiliki rasa yang tak berbalas. Karena
memang tak ku lepas.
Kusimpan erat keberadaannya. Hingga
akhirnya kau menemukannya.

Kini, diakhir perdebatan kita. Kembali ku dipersalahkan rasa.
Rasa yang mungkin kini sudah berbeda.
Maka maafkanlah.


_minggu pagi selepas hujan_

Apa kabarmu, Tuan Berkacamata?

Masihkah marah menyelimutimu?

Perdebatan hebat kita di akhir minggu kala itu menyisahkan
lara yang meradang.
Tiada guna ku kujelaskan.
Jika pada akhirnya
kaupun tak mau mendengarkan.

Marahmu hebat, emosimu mencuat.
Tak terima pada kenyataan
bahwa aku terperanjat pada sebuah sikap kebaikan seseorang
yang di salah artikan.

Kumenunggu dalam derai hujan di minggu pagi. Sebuah maaf dalam khilaf.
Aku bersalah. Berdosa.

Diammu menghukumku. Marahmu menyiksaku.

Maafkan aku, tuan berkacamata.
Jika hadirnya membuat luka.
Kusembunyikan rasa yg telah terbiasa
tanpa berbeda.
Dan kini kau mengetahuinya. Mengubah semuanya.


_selepas chitchat kita di minggu pagi_

Ketika Harga Diri Angkat Bicara

  • Harga Diri: Kamu suka sama dia?
  • Aku: Suka. Banget.
  • Harga Diri: Lalu, kenapa kamu nggak menunjukkan sama dia bahwa kamu suka?
  • Aku: Kan udah?
  • Harga Diri: Itu belum cukup. Kamu belum pernah ngomongin perasaan kamu yang sebenarnya ke dia kan?
  • Aku: Duh! Aku kan perempuan!
  • Harga Diri: Terus kenapa?
  • Aku: Perempuan itu nggak boleh nembak duluan kan?
  • Harga Diri: Siapa yang nyuruh kamu nembak?
  • Aku: Jadi gimana dong caranya supaya dia tau perasaanku?
  • Harga Diri: Bilang bahwa kamu kangen. Bilang bahwa kamu senang ketika bersama dia.
  • Aku: Tapi aku malu...
  • Harga Diri: Berarti kamu belum terlalu suka sama dia!
  • Aku: Aku suka banget sama dia!
  • Harga Diri: Terus, apa yang menahan kamu untuk nggak ngomong soal perasaan ke dia?
  • Aku: KAMU!
  • Harga Diri: Aku? Kenapa aku? Kamu jangan mikirin aku kalau kamu benar-benar suka sama dia.
  • Aku: Nggak apa-apa memangnya? Kamu nggak keberatan?
  • Harga Diri: Ya nggaklah! Toh kalian sama-sama belum punya pacar. Toh kamu dikenal sebagai perempuan baik-baik, dan dia juga sepertinya orang baik. Nggak ada salahnya kan, ketika dua orang yang masih sendiri saling suka?
  • Aku: Iya sih...
  • Harga Diri: Lain kasusnya, kalau dia atau kamu sudah berpasangan. Atau, kamu hanya kepengin sesuatu yang lain dari dia. Atau, dia hanya kamu jadikan cadangan. Itu baru salah.
  • Aku: Jadi nggak apa-apa nih, kalau aku bilang kangen sama dia?
  • Harga Diri: Nggak apa-apa banget! Malah bagus kan?
  • Aku: Gimana kalau dia jadi merasa terganggu setelahnya dan nggak nyaman?
  • Harga Diri: Aku percaya dia nggak begitu. Setidaknya, dia jadi bisa mengambil sikap. Juga kamu.
  • Aku: Aku nggak siap kalau gara-gara ngomongin perasaanku dia jadi menjauh.
  • Harga Diri: Ya nggak apa-apa juga kan? Kamu jadi nggak membuang-buang waktu.
  • Aku: Iya juga sih...
  • Harga Diri: BTW, lain kali jangan nyalahin aku lagi ya!
  • Aku: Hehe. Nggak kok. Kamu itu penting buat aku, makanya aku memperhitungkan kamu, Harga Diri :)
  • Harga Diri: Terima kasih untuk itu, tapi ada kalanya kamu nggak usah memusingkan aku, ada kalanya kamu jangan menilai aku terlalu tinggi.
  • Aku: Baiklah. Terima kasih untuk masukannya, Harga Diri. Tapi kamu yakin dia nggak akan keberatan dengan perasaanku?
  • Harga Diri: Wah, itu sih bukan urusanku lagi. Kamu harusnya menanyakan hal ini kepada saudaraku, Percaya Diri. Bukannya dia seharusnya ada di dalam dirimu ya?

Suara Ketukan di Depan Pintu

  • Kepala: Jangan biarkan lagi di masuk ke dalam kehidupanmu.
  • Hati: Kenapa? Aku ingin bahagia, Hati!
  • Kepala: He won't change. He's still the guy that you used to know. The guy who once broke your heart, and left you for some other girl. Remember?
  • Hati: Tapi bagaimana kalau kali ini kisahnya akan berubah?
  • Kepala: Tolong dengarkan aku. Sekali ini saja. Dia tetap orang yang sama. Yang akan membuatmu patah lagi.
  • Hati: Mengapa kau begitu membencinya?
  • Kepala: Aku tidak membencinya. Aku melindungimu. Aku menyayangimu. Dengarkan aku, atau jangan pernah lagi datang kepadamu.
  • Hati: Kamu kejam!
  • Kepala: Kau yang kejam kalau kau membiarkan dirimu sendiri terus disakiti.
  • Hati: Aku hanya ingin bahagia, Kepala :'(
  • Kepala: Aku juga ingin kau bahagia. Lebih dari yang kau tahu. Karenanya, tutup pintumu rapat-rapat untuk dia.
  • Hati: Aku tak ingin menyakitinya...
  • Kepala: Dan kau lebih rela menyakiti dirimu sendiri? Baiklah. Itu urusanmu. Hidup ini pilihan, dan ketika kau membuat pilihan yang salah, jangan pernah menyalahkan siapa pun, kecuali dirimu sendiri.
  • Hati: Tapi... bukankah dia layak untuk diberi kesempatan kedua? Sementara Tuhan sering memberiku kesempatan kedua, bahkan kadang ketiga, keempat...
  • Kepala: Kau bukan Tuhan! Karenanya Dia memberikan aku untuk jadi pendampingmu, Hati. Tolonglah. Jangan sakiti dirimu lagi. Kau perempuan cerdas. Kau baik hati. Kau berhak bahagia, karenanya ijinkan dirimu untuk bahagia. Bukan dengannya.
  • Hati: Dengan siapa?
  • Kepala: Dengan dia yang tak pernah dan tak akan menyakitimu. Dia sudah ada di depan pintu dan sebentar lagi tangannya akan mengetuk. Ketukannya mungkin nyaris tak terdengar, sehingga kau sulit mendengarnya. Tapi dia ada di sana, dan ketika kau membiarkan Semesta untuk membuatmu bahagia dengan caraNya, bukan dengan caramu sendiri, kau akan mendengar suara di ketukan pintumu.

Check it out » http://biashujan.tumblr.com/post/86778312803/jangan-kamu-katakan-masih-mencintaiku-jika

biashujan:

Jangan kamu katakan masih mencintaiku, jika tanganmu menggenggam erat tangannya, tak berniat beranjak dan hanya dusta saja

Tak usah kamu buai aku dengan kata hatimu untukku, aku tak perlu kasianmu, aku masih bisa hidup tanpa itu meski separuh aku bergantung padamu.

Aku tak perlu sajak atau puisi…

Tolong kembalikan hatiku… :’(

Tuhan Rapopo

  • Aku: Tuhan...
  • Tuhan: Ya?
  • Aku: Aku hari ini sedih.
  • Tuhan: Aku tau.
  • Aku: Aku mau curhat.
  • Tuhan: Aku lagi dengerin kamu.
  • Aku: Ah, tapi palingan akhirannya Tuhan cuma bilang, "Nggak usah khawatir. Semuanya nanti akan baik-baik aja." Iya kan?
  • Tuhan: Iya.
  • Aku: Nggak punya jawaban lain apa, Tuhan?
  • Tuhan: Nggak.
  • Aku: Ah, Tuhan nggak kreatif!
  • Tuhan: Bukannya nggak kreatif, tapi memang semuanya akan baik-baik aja. Percaya nggak sama Aku?
  • Aku: Percaya sih... Eh, tapi, Tuhan, menurut Tuhan mendingan curhat sama Tuhan apa curhat di blog?
  • Tuhan: Aku juga baca kok blog kamu.
  • Aku: Oya?
  • Tuhan: Tuh kan! Gimana semuanya akan baik-baik aja kalo kamu nggak percayaan?
  • Aku: Tuhan marah?
  • Tuhan: Nggaklah. Wis biyasa.
  • Aku: Maafin aku ya, Tuhan. Aku nggak maksud meragukan Tuhan.
  • Tuhan: Beneran. Aku rapopo.
  • Aku: Boleh minta peluknya nggak, Tuhan? :')

Hujan datang lagi, Tuan.
Hujan datang malam ini..
Bintang-bintang tiada lagi
Bulan pun merundung sedih

Hatiku resah resah resah, Tuan.
Menanti kabar yg tak juga datang.

Hujan tak reda

Aku gelisah

Hujan datang lagi, Tuan.
Hujan datang malam ini.


Seandainya malam ini aku dapat
mengungkapkan rasa hati yang berharap
Ku tak sanggup Tuan.

Menantikan dirimu datang kemari
Menemani diriku yang sendiri.

Hujan datang lagi, Tuan.
Hujan datang malam ini.


@anaknya_abeh

Jerohan

  • Aku: Mbak, jerohannya hari ini apa aja?
  • Mbak Warung Padang: Nggak ada jerohan, Mbak.
  • Aku: Lha itu apa?
  • Mbak Warung Padang: Limpa, hati, babat.
  • Aku: ...
  • Mbak Warung Padang: Di sini nggak jual hati dan ampela ayam, Mbak.
  • Aku: ...
  • Bener banget kata Kiki, nggak semua orang mengerti seperti yang kita pikiran. Padahal itu tadi bukan kode, tapi tetap aja si Mbak Warung Padang nggak ngerti. Jangan berasumsi apapun, makanya : )